Saya kesulitan menolak penjual yang satu ini, lebih karena pada dasarnya ia bukan seorang penjual, ia juga tidak sedang berjualan, walau ia sedang melakukan aktivitas penjualan. Ia adalah salah satu pendengar siaran radio saya. Seorang yang mengalami kebutaan secara bertahap. Dari terang menuju gelap dan untuk akhirnya sama-sekali gelap, adalah derita yang hanya dengan membayangkan saja sudah terasa beratnya.
Best Motivators
- #SEO Contest Hadiah Rp 25 Juta (1)
- Agus Riyanto (3)
- Andrew Ho (3)
- Andrie Wongso (3)
- Eko Jalu Santoso (3)
- Joko Susilo (3)
- Mario Teguh (3)
- Muk Kuang (3)
- Nathalia Sunaidi (3)
- Paulus Winarto (3)
- Peter Lim (3)
- Pitoyo Amrih (3)
- Ponijan Liaw (3)
- Prie GS (3)
- Tom MC Ifle (3)
- Tung Desem Waringin (1)
- Wuryanano (3)
Senin, 06 Juli 2009
Prie GS: Penjual Yang Tidak Berjualan
Prie GS: Orang Kalah
Saya pernah menjadi orang kalah. Bukan kekalahan besar, tetapi sekadar kekalahan dalam lomba vocal group di sekolah. Tapi karena main gitar masih menjadi sisi penting hidup saya, maka seluruh dunia ini rasanya tak ada yang lebih penting dari gitar. Jadi cukup hanya dengan kalah lomba vocal saya merasa dunia otomatis runtuh. Butuh berhari-hari bagi saya untuk berani keluar kamar kos dengan tenang. Rambut saya cukur pelontos, kuku jari saya potongi dan dua hari saya membolos. Untuk apa semua ini? Untuk marah dan protes pada keadaan.
Sementara keadaan yang saya protes itu ternyata tak menggubris protes saya. Matahari tetap muncul dan tenggelam seperti biasa. Hanya karena saya sedang sedih misalnya, matahari juga tidak otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak terbit terbalik muncul dari barat dan tenggelam di timur. Ketika ini benar-benar terjadi tentu saya akan merasa gembira dan ditemani. Saat seluruh penduduk dunia kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? "Ooo ini ada orang yang tinggal di sebuah kampung di ujung kota Semarang sana, namanya Prie GS sedang murung karena kalah lomba vocal group!"
Betapa senang kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi nyatanya tidak. Tak peduli apakah saya memangkas rambut atau sekalian memotong kepala karena kekalahan itu bakul-bakul di pasar tetap berjualan seperti biasa. Mereka sama sekali tidak pernah tahu kekalahan saya. Jangankan cuma kalah lomba, sekalipun vocal group itu tidak pernah ada di dunia, apa peduli mereka.
Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.
Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.
Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.
Ketika saya kalah lomba itu, tak pernah terlintas sekalipun di pikiran saya untuk menyalahkan diri sendiri, untuk mengakui kemenangan lawan dan untuk menghargai keputusan dewan juri. Ketika saya sedang kalah itu yang muncul adalah tudingan yang seluruhnya mengarah ke pihak lain. Itu juri pasti kena suap, itu si pemenang pasti cuma beruntung, atau itu penontonnya pasti goblok semua. Sama sekali tak peanh saya pikir bahwa kekalahan saya itu karena mutu permainan gitar saya yang jelek dan lagu saya yang buruk mutunya.
Jika partai saya kalah dan saya adalah caleg gagal, sulit untuk menghentikan sumber kekalahan itu cukup di satu soal saja: yakni karena saya memang benar-benar tak disukai massa. Menjadi kalah adalah saatnya untuk mengada-ada. Namanya juga mengada-ada, ia pasti mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
(Prie GS/)
Hot Topic: Stop Dreaming Start Action!
Jumat, 03 Juli 2009
Prie GS: Para Pengomel
Pernahkah Anda melihat pribadi pengomel? Setiap kali, karena pribadi itu bisa jadi Anda sendiri, saya pasti tak terkecuali. Selain pernah melihat orang yang tertolak karena kegemarannya mengomel, saya juga pernah menjadi pribadi tertolak karena kegemaran saya mengomel. Termasuk dalam barisan omelan ini adalah sikap murung, lesu, dengki, sial, kalah, tertekan, teraniaya, kesepian, frustrasi, sumpek, gerah, marah....
Seluruh kata itu bukan hampir semuanya kita akrapi karena ia kita hidupkan setiap kali. Tak kita butuhkan musibah-musibah besar untuk menghidupi kata-kata ini. Ia subur bahkan dengan pupuk murahan seperti misalnya nonton televisi. Seorang ibu bisa marah-marah hebat hanya karena melihat bintang sinetron cerai dan saling memaki padahal baru kemarin ia menggelar pesta yang kemewahannya mendorong ibu yang sama melongo dibuatnya.
Padahal cuma butuh langkah sederhana untuk menghentikan omelan ini: matikan televisi! Tetapi hebatnya, sementara mulut mengomel, mata justru semakin dalam terpaku pada sumber omelan. Jadi, banyak orang sakit menjadi lebih sakit karena kegemarannya malah mendekati penyakit. Seluruh selebriti di dunia boleh bercerai, tetapi dunia ini pasti baik-baik saja. Karena selain kabar sedih yang dibawa, pasti ada kabar gembira sebagai ikutannya. Wartawan jadi punya berita, tabloid laris dan pengadilan agama sibuk padahal sibuk itu pasti sehat.
Istri saya juga tak terkecuali. Cuma dengan mendengar berita bahwa Ketua KPK Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka tiba-tiba ia gelisah tanpa alasan yang jelas cuma gara-gara kumis saya dan kumis Antasari dianggap sama tebalnya. Guyon? Tidak. Ini serius, karena istri saya kemudian membayangkan sebuah drama yang ia sutradarai sendiri.
‘'Jika kumisnya sama, jangan-jangan kelakuannya sama. Jika kelakuan saya jangan-jangan nasibnya juga sama. Jika nasibnya sama jangan-jangan....'' Terus... penyutradaraan itu akan mengembang sesuai dengan kreativitas kita sendiri. Imajinasi, mau membangun mau merusak, sama kuatnya. Padahal begitu saya yakinkan bahwa ‘'kumis boleh sama tetapi nasib bisa berbeda,'' mulai berbeloklah imajinasi istri. Kata ‘'beda'' itu kemudian juga membawa imajinasinya berjalan ke arah yang berbeda dengan melihat suaminya sebagai figur yang menyenangkan. Ada memang dari diri saya ini sisi yang menjengkelkan yang istri saya hafal di mana, tapi pasti ada pula sisi hidup saya yang menyenangkan dan ia juga tahu terletak di sebelah mana. Kecepatan pikiran untuk berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya itu adalah kemampuan yang mutlak harus dimiliki manusia jika hidupnya tidak ingin terpenjara oleh sikap uring-uringan sepanjang masa.
Lalu inilah logikanya: pihak yang sedang mengomel itu, pasti adalah pihak yang terlalu lama berhenti di sebuah perasaan saja. Kelemahan saya misalnya, suka jengkel berlama-lama hanya karena sambal istri kurang enak seperti biasa. Tapi apa jadinya jika pada saat yang sama ada telepon dari Presiden: ‘'Halo, saya Presiden Indonesia. Saya menugaskan dengan hormat saudara Prie GS mulai bulan depan, sudilah kiranya mengemban tugas negara sebagai Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan sekaligus merangkap sebagai Jaksa Agung. Saya percaya, di tangan saudara, kehidupan bernegara pasti akan lebih baik. Jadi pliss...!''
Bisa Anda tebak apa reaksi saya? Istri yang menjengkelkan itu pasti akan saya peluk sejadi-jadinya. Bayangkan jabatan Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan sekaligus Jaksa Agung adalah jabatan rangkap yang belum pernah ada dalam sejarah. Apalagi ketika prestasi saya baik, tak sulit kelak untuk sekaligus merangkap sebagai Ketua PKK. Tapi apakah saya perlu kabar sedramatik itu baru saya bisa bergembira? Tidak. Karena menyadari kuping saya masih utuh jumlahnya saja, pasti akan mendatangkan rasa syukur. Jadi berpindah perasaan itu hanya soal pilihan karena baik perasaan yang menjengkelkan maupun menyenangkan sama-sama disediakan.
Prie GS
Read More......