Setiap kali sang legenda motivasi di republik ini, Andrie Wongso bicara serasa ada arus yang mengalir dengan keras dan deras menyengat ke seluruh lini ruangan dan sanubari peserta seminarnya. Iseng-iseng penulis pernah bertanya kepada beberapa peserta di berbagai kota yang sempat penulis hadiri, apa yang menyebabkan sebagian besar peserta, jika tidak boleh dikatakan semua, tersengat bagai kesurupan mengikuti apa saja yang diteriakkan dan diajak oleh penyandang gelar SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat) itu. Rata-rata jawaban yang diberikan bersifat generik adanya: spirit dan power suara sang motivator yang juga guru kungfu itulah yang menular kepada mereka. Setiap kata terasa bernas dan tajam menembus ke bilik hati yang paling dalam. Restorasi semangat pun terjadi. Yang tadinya lemah, lesu, lambat, lamban, loyo, letoy dan lemot serasa mendapatkan sengatan luar biasa yang membangunkan mental dari tidur siangnya. Dan, secara umum, banyak yang akhirnya bangkit dan dengan penuh semangat meruntuhkan mental block yang selama ini memasung kreativitas berkarya mereka.
Ternyata bukan hanya masyarakat kebanyakan saja yang merasakan sengatan dari sang motivator yang juga mantan bintang film Hongkong itu. Deretan tokoh nasional dan artis pun mengakui adanya api yang terus membara setiap kali bertemu dengan tokoh yang dikenal juga dengan inisial AW itu. Mulai dari pebulutangkis seperti Hendrawan, Chandra Wijaya, Simon Santoso, pengusaha seperti Subronto Laras, pemenang setengah milyar di kuis Who Wants to Be a Millionaire, Agus Misyadi, Tim Karate Sea Games Philiphina 2005 yang menargetkan dua medali emas, malah mendapatkan lima, sampai dengan artis sekelas Ebiet G. Ade. Kesemuanya merasakan betapa kata-kata yang disampaikan dengan full power dan itikad baik dari hati bersih yang paling dalam, mampu menggerakkan sendi-sendi otot yang mulai melemah menjadi kuat tak terbendung. Oleh karena itu, prestasi yang telah diukir dengan membangkitkan semangat sedemikian banyak orang, masyarakat pun mengapresiasi sang legenda motivasi dengan sebutan Motivator No. 1 Indonesia. Sebuah noble title yang layak untuk pembicara penuh semangat dan dedikasi seperti itu.
Tidak berlebihan jika, semangat dalam bicara seperti yang dicontohkan oleh Andrie Wongso menjadi cermin setiap pelaku usaha ketika memaparkan jasa dan produknya. Enthusiasm is contagious - and so is the lack of it. Karena semangat itu menular, bisa dipastikan pelanggan yang mendengar pun akan merasakan semangat yang relatif sama sepanjang semangat itu bisa dikelola secara konsisten dan konsekuen. Sengatan antusias yang ditampilkan akan menambah kredit positif terhadap si penuturnya juga. Pelanggan akan merasa berbisnis dengan orang yang tepat dan memiliki masa depan. Demikian pula sebaliknya, bicara tanpa semangat akan membuat calon pelanggan dihampiri rasa ragu dan tanpa komando lebih lanjut akan melangkah mundur perlahan-lahan. Dapat dipastikan ia tidak akan kembali. Oleh karena itu, camkan dengan serius bahwa pengaturan bicara dengan muatan semangat yang terkendali dan terukur akan meningkatkan produktivitas dan profesionalitas diri. Tanpa itu, bicara jadi tidak berarti. Karena sekali lahir, kemudian mati.
Catatan:
Untuk penjelasan lengkap mengenai hal-hal di atas, silahkan baca buku penulis yang berjudul "Talk to Your Customer This Way."
Best Motivators
- #SEO Contest Hadiah Rp 25 Juta (1)
- Agus Riyanto (3)
- Andrew Ho (3)
- Andrie Wongso (3)
- Eko Jalu Santoso (3)
- Joko Susilo (3)
- Mario Teguh (3)
- Muk Kuang (3)
- Nathalia Sunaidi (3)
- Paulus Winarto (3)
- Peter Lim (3)
- Pitoyo Amrih (3)
- Ponijan Liaw (3)
- Prie GS (3)
- Tom MC Ifle (3)
- Tung Desem Waringin (1)
- Wuryanano (3)
Sabtu, 04 Juli 2009
Ponijan Liaw: Antusiasme Berbicara Itu Menular
di 12.46
Label: Ponijan Liaw
Ponijan Liaw: Senyumlah, Dunia Akan Mencintaimu
Anda pasti pernah mendengar kisah tentang betapa sakitnya penderitaan seorang ibu saat ia melahirkan seorang anak. Segala daya dan upaya plus nyawa yang bersemayam dalam fisiknya pun disiapkan demi lahirnya sang dambaan hati itu. Namun, segala penderitaan fisik yang berlangsung selama sembilan bulan itu, pupus karena melihat sang bayi lahir dengan selamat. Segala keletihan fisik dalam membesarkan sang balita pun terbayar lunas dan tuntas ketika melihat sang belahan jiwa tersenyum. Yah, hanya dengan senyuman seluruh sendi ragawi yang letih terasa mendapatkan injeksi vitamin yang memulihkan dan menguatkan diri. Fenomena alami ini akan terus berlaku sepanjang peradaban manusia di bumi.
Bagi yang belum pernah merasakan punya bayi, barangkali pernah jatuh cinta kepada seorang pujaan hati. Ingat-ingatlah dengan teliti, apa yang menarik dari calon pasangan kekasih Anda itu. Matanya, bibirnya, hidungnya, kakinya, kulitnya atau panca indra lainnya. Namun, survei juga membuktikan bahwa ada salah satu yang selalu menarik simpati: senyumannya! Yah, Anda tertarik pada calon pasangan Anda karena senyumnya, meminjam bahasa pujangga, sebagai madu yang tidak akan pernah habis manisnya. Nikmat sekali! Itulah senyuman.
Sebaliknya, jika Anda bertemu dengan orang yang baru saja hendak disapa tapi sudah memalingkan muka dengan wajah ditekuk delapan (manyun habis). Pastinya rasa jengkel, marah, terhina dan terlecehkan pun berkecamuk di ruang afeksi yang seyogianya tidak berisi energi negarif tersebut. Orang jenis itu (tanpa senyum) pastinya tidak akan mampu mengoleksi varian sahabat yang pada saatnya nanti mungkin akan menjadi partner bisnisnya. Konsekuensi logis dari sebuah karakter buruk tanpa senyum itu adalah terpasung dan terisolasinya sang pelaku dari hiruk-pikuk keramaian kota. Jelas, sisi negatif dan destruktif akan lebih mengemuka dalam kehidupannya. Jadi, silah senyum sekarang! Semoga senyum itu bertahan terus selama matahari masih disana!
Catatan:
Untuk penjelasan lengkap mengenai hal-hal di atas, silahkan baca buku penulis yang berjudul "Talk to Your Customer This Way."
Ponijan Liaw
ponijan@central.net.id
Penulis Buku-buku Bestseller Komunikasi & Zen
Read More......di 12.44
Label: Ponijan Liaw
Jumat, 03 Juli 2009
Ponijan Liaw: Membidik Pasar Perempuan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, dari total jumlah penduduk sebesar 217 juta, jumlah penduduk perempuan mencapai 49,8% atau sekitar 108 juta jiwa. Sebuah angka yang sangat menggiurkan untuk digarap. Para pemilik korporasi produk dan jasa pun menggunakan kondisi itu melalui berbagai strategi komunikasi untuk menjaring pasar gemuk ini.
Ada acara ladies night (masuk gratis buat kaum hawa di diskotik), ladies parking (parkir di mal khusus untuk perempuan), ladies floor (lantai tertentu di hotel yang diperuntukkan hanya untuk kaum Kartini), dan masih banyak lagi perlakuan istimewa terhadap kaum ini mengingat pasarnya yang sangat luas dan mudah dipengaruhi. Selain disasar sebagai penebal pundi-pundi korporasi, belakangan ini komunitas ini juga dibidik di lantai bursa.
Mereka yang secara psikologis memiliki ketertarikan terhadap banyak hal (karena memiliki multi-tracking brain system) juga diyakini akan tertarik menjadi investor yang tangguh di pasar modal dengan pengetahuan dasar mengelola uang keluarga yang dimiliki. Hal ini bahkan dikuatkan dengan dukungan motivasional feminis oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Farida Hatta Swasono suatu ketika dengan pernyataannya, "sudah tidak jamannya lagi, jika soal investasi hanya urusan bapak-bapak." Aksioma ini terasa menambah injeksi semangat para pelaku bisnis dan jaringan untuk semakin gencar menggempur pasar kaum ini.
Guna menarik dan memasuki ranah kaum hawa ini, gaya komunikasi yang akan diaplikasikan harus bersifat taktis dan strategis. Kaum ini relatif lebih unik dan spesifik dalam banyak hal dibandingkan kaum Adam. Menurut penelitian Louann Brizendine yang ditulis dalam bukunya ‘The Female Bain', kaum perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata perhari, sedangkan kaum lelaki hanya sekitar 7.000 kata perhari.
Bayangkan, betapa bursa kata begitu meriah ketika pelanggan yang tengah dilayani adalah kaum hawa. Mereka akan terus bertanya dan melompat dari satu topik ke topik berikutnya secepat kedipan mata ketika berbicara. Jika tidak memahami kelebihan kaum dalam berbicara ini, usia kesabaran para sales pasti akan pendek jadinya. Hal berikut yang juga unik dari para ibu ini adalah mereka selalu mengingat rincian pertengkaran yang tidak dapat diingat sama sekali oleh lelaki. Artinya, jika ketidakpuasan mereka mengemuka dan keluhan (complaint) yang disampaikan bersambut argumentasi yang menyakiti, peristiwa itu bisa dipastikan akan masuk dalam memori jangka panjang mereka dan akan terus diungkit lagi jika kejadian yang sama atau relatif serupa mengemuka kembali. Sebaliknya, jika hal-hal positif yang terjadi, ruang memori mereka juga akan menyimpan data dan fakta dimaksud dalam durasi lama.
Dan, satu fakta terpenting lainnya yang juga perlu diingat adalah bahwa kaum ini memiliki kecenderungan membentuk ikatan yang lebih dalam dengan teman perempuan mereka. Mereka lebih mementingkan persahabatan daripada bisnis semata. Dalam konteks kepuasan terhadap sebuah produk/jasa yang mereka terima, secara otomatis tanpa instruksi, word of mouth akan menghiasi seluruh ruang diskusi dalam durasi panjang tiada henti. Mereka akan terus membicarakan hal itu dan pastinya menjadi ajang promosi yang dapat memengaruhi dan menggerakkan kelompok diskusi untuk mencoba produk/jasa dimaksud. Sebaliknya, jika produk/jasa dimaksud mengecewakan dan merugikan, tanpa komando, kelompok itu akan bertindak seragam dalam menyikapinya.
Sebagai tambahan, ketika membidik kaum perempuan agar melakukan tindakan partisipatif aktif dalam bisnis, pemilihan kata (diksi) dan kiasan yang tepat juga menjadi faktor yang penting untuk dipersiapkan. Kaum ini terbiasa dengan kata-kata yang berbunga-bunga dan penuh kiasan. Simbol-simbol selalu menjadi cara mereka memahami segala sesuatu. Karena mereka sejatinya adalah makhluk indirect (tidak langsung). Dalam bahasa lain, diplomasi bicara harus lebih dikedepankan. Variasi diplomasi juga bisa berupa pujian yang akan menjadi pengikat hati untuk melancarkan konversasi berdestinasi. Hal ini jelas akan menarik simpati dan hati sehingga kaum ini merasa berbicara dengan orang yang sangat mengerti mereka.
Bukankah Ada Band sudah mengingatkan hal ini melalui lagunya 'Karena Wanita Ingin Dimengerti' yang antara lain berbunyi: lewat tutur lembut dan laku agung. Karena wanita ingin dimengerti. Manjakan dia...dengan kasih sayang. Disana ada dimensi komunikasi verbal (tutur lembut) dilengkapi dengan komunikasi nonverbal (laku agung). Lengkap sudah kemanjaan yang diberikan kepada kaum perempuan ini, sehingga mereka sulit berpindah ke lain hati. Itulah salah satu strategi jitu untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dalam kategori gender.
Akhirnya, semoga semakin banyak korporasi menyadari hal ini dengan memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih luas dan variatif kepada kaum ini sebagaimana diberikan kepada kaum Adam, sehingga kesetaraan gender yang menjadi cita-cita luhur Kartini, tidak hanya terwujud dalam tataran konseptual, melainkan juga di ranah operasional.
Drs. Ponijan Liaw, MBA, M.Pd.
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id
di 11.10
Label: Ponijan Liaw